Bidang Kompetensi

Berita



Sosialisasi dan FGD Pemanfaatan VIIRS Nighttime Fire Untuk Mitigasi Kebakaran Hutan/lahan Bagi Pemangku Kepentingan dilakukan di Pusfatja
Penulis Berita : • Fotografer : • 17 Dec 2014 • Dibaca : 13007 x ,

Pusfatja pada tanggal 17 Desember 2014 mengadakan Sosialisasi dan FGD Pemanfaatan VIIRS Nighttime Fire Untuk Mitigasi Kebakaran Hutan/lahan Bagi Pemangku Kepentingan. Kegiatan ini bertujuan untuk mengenalkan hasil penelitian dan pengembangan pemantauan kebakaran lahan/hutan dengan menggunakan data baru yaitu data Suomi NPP yang memiliki sensor VIIRS. Dalam pembukaannya, Deputi Penginderaan Jauh, Dr. Orbita Roswintiarti mengatakan bahwa kegiatan pemantauan hotspot sudah lama dilakukan oleh Lapan dan dengan satelit yang baru ini akan memperkuat kondisi penelitian dan pengembangan di Lapan. Harapannya, informasi yang telah dihasilkan dapat dimanfaatkan oleh stakeholder. Sementara itu, dalam paparan umumnya Kepala Pusat Pemanfaatan Penginderaan Jauh, Dr. M. Rokhis Khomarudin mengatakan bahwa mengapa kegiatan litbang pemanfaatan VIIRS ini karena merupakan satelit baru yang diluncurkan pada tahun 2011, memperkaya data pemantauan hotspot, kemampuan kanal VIIRS dapat digunakan untuk menghitung luas kebakaran dan pemantauan malam hari merupakan tantangan tersendiri untuk pemantauan kebakaran lahan/hutan. Dalam kegiatan ini dihadiri oleh stakeholder dari daerah rawan kebakaran seperti Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Sumatera Selatan, dan Riau. Stakeholder yang lain adalah CIFOR, BMKG dan Dirjenbun. Dalam kegiatan ini juga dipaparkan hasil-hasil penelitian VIIRS dan daerah bekas terbakar dari data satelit penginderaan jauh. Juga oleh BPREDD + yang mempresentasikan tentang Karhutla monitoring sistem yang telah dibangun oleh BPREDD. Kemenhut dan LH juga menyampaikan permasalahan-permasalahan dan upaya yang telah dilakukan oleh kementerian terkait dengan pengendalian kebakaran lahan/hutan. Secara lengkap resume hasil kegiatan ini adalah sebagai berikut:
1.    VIIRS merupakan data yang potensial untuk dapat digunakan untuk pemantauan kebakaran lahan dan hutan di Indonesia dengan akurasi sekitar 87%
2.    Daerah bekas terbakar dapat diidentifikasi dengan data satelit penginderaan jauh dan merupakan data yang objektif untuk menghitung luas kebakaran yang terjadi dengan akurasi sekitar 80%
3.    Informasi hotspot baik dari MODIS maupun VIIRS sudah dapat diakses dalam MODIS catalog yang telah dibangun oleh Lapan
4.    BPREDD telah mengembangan sistem pemantauan kebakaran lahan/hutan yang terdiri dari pencegahan, pengendalian, dan penegaka hokum. VIIRS nighttime merupakan sumberdata yang ditunggu untuk memperkuat sistem pemantauan yang telah dibangun.
5.    Permasalahan-permasalahan kebakaran lahan dan hutan terutama dalam hal pencegahan dan pengendalian perlu diperhatikan untuk segera ditangani dengan baik. Pemanfaatan data penginderaan jauh akan sangat membantu dalam upaya tersebut. Rekomendasi-rekomendasi dari Lapan terkait dengan pemantauan hotspot sangat ditunggu seperti hotspot mana yang dipake apakah NOAA, MODIS, maupun VIIRS. Berapa hari waktu yang dilakukan untuk pengecekan lapangan setelah dipantau adanya hotspot. Karakteristik hotspot yang bagaimana yang benar-benar menunjukkan bahwa informasi tersebut benar-benar terjadi kebakaran lahan/hutan.


Your Comments
No Comments Results.
Comment Form












Please retype the characters from the image below :


Reload the CAPTCHA codeSpeak the CAPTCHA code
 








Related Posts
No Related posts

Satuan Kerja
Peraturan Perundangan
UU No.21 2013
Inpres No.6 2012
JDIH
Multimedia
Foto
Video
Unduh
Unduh File
Kontak kami :
LAPAN
Jl. Pemuda Persil No.1 Jakarta 13220 Telepon (021) 4892802 Fax. 4892815



© 2022 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL