Bidang Kompetensi

Berita



FORUM GROUP DISCUSSION RENCANA INDUK TEKNOLOGI SATELIT NASIONAL
Penulis Berita : Robertus Heru Triharjanto, Abdul Rahman, & Patria Rahman Hakim • Fotografer : Abdul Rahman • 15 Jul 2014 • Dibaca : 22494 x ,

Berdasarkan UU No. 21 Tahun 2013 tentang UU Keantariksaan, LAPAN diwajibkan untuk menyusun rencana induk sebagai pedoman nasionaluntuk penyelenggaraan keantariksaan. Salah satu dari kegiatan keantariksaan tersebut adalah penguasaan teknologi satelit untuk aplikasi telekomunikasi, penginderaan jauh, navigasi dan sains. Dalam hal ini Pusat Teknologi sayelit sebagai unit yang berkewajiban untuk menyusun program pengembangan teknologi satelit nasional mengadakan focus group discussion (FGD) pada tanggal 13-14 Mei 2014 lalu.Tujuan dari forum tersebut adalah untuk mensosialisasi program pengembangan satelit yang ada di LAPAN dan lembaga-lembaga lain di Indonesia dengan tujuan untuk menjamin terjadinya koordinasi dengan lembaga-lembaga tersebut. Kegiatan tersebut dihadiri oleh perwakilan lembaga-lembaga pemerintah; diantaranya LAPAN, BPPT, BIG,Kementerian Riset& Teknologi, Kementerian Pertahanan, Kementerian Komunikasi dan Informasi, Kementerian Perindustrian;perwakilan industri, diantaranya PT.DI, PT.INTI, serta asosiasi penyedia jasa komunikasi satelit, ASSI; dan perwakilan akademia, diantarnta IT, IPB, PENS, Surya University, dan Telkom University. Dalam forum tersebut, para peserta memaparkan status dari program persatelitan di lembaganya, serta mengutarakan gagasan-gagasan terkait pengembangan teknologi satelit di Indonesia.



Selain melakukan sosialiasi atas UU Keantariksaan, LAPAN juga memaparkan mengenai program penguasaan teknologi satelit eksperimental yang dilakukan Pusat Teknologi Satelit, serta wacana mengenai rencana induk teknologi satelit nasional. Mengenai penguasaan teknologi satelit eksperimental disampaikan bahwa pengembangan satelit di dalam negeri telah menghasilkan satelitkelas mikro LAPAN-A2 yang telah siap diluncurkan akhir tahun 2012. Selanjutnya, tengah dikembangkan satelit kelas mikro LAPAN-A3 yang mempunyai lompatan teknologi yang cukup jauh dibandingkan satelit sebelumnya, yang akan mulai mendekati persyaratan operasi satelit penginderaan jauh. Adapun petajalan pengembangan satelit nasional yang diwacanakan LAPAN adalah seperti pada gambar 2, dimana direncanakan pengembangkan satelit yang lebih besar baik untuk misi telekomunikasi maupun penginderaan jauh, yang melibatkan konsorsium nasional.

 

Gambar 2. Petajalan pengembangan teknologi satelit nasional yang digagas LAPAN

 

Sebagian besar presentasi menyampaikan mengenai kebutuhan teknologi satelit di Indonesia, baik untuk aplikasi telekomunikasi, penginderaan jauh, navigasi, maupun sains. Untuk penginderaan jauh, saat ini terpetakan bahwa kebutuhan data spasial dari citra satelit atas wilayah Indonesia, untuk kepentinganpengelolaan sumber daya alam dan tata ruang, yang dibeli oleh berbagai instansi pemerintahan, seperti Kementerian Perikanan, Kementrian Pertanian, dan BIG adalah sekitar 5,5 juta dollar per tahun. BIG, misalnya, telah memiliki peta dasar seluruh wilayah Indonesia untuk slaka di atas 1:100000, namun masih membutuhkan peta dasar dengan skala lebih kecil dari 1:50000, yang harus dipernuhi dengan citra satelit. Lebih jauh, berdasarkan studi kebutuhan pengguna yang dilakukan BPPT dan LAPAN, diperlukan penginderaan muka bumi menggunakan teknologi satelit radar (SAR) untuk melengkapi penginderaan jauh dengan teknologi optik, yang saat ini dipakai. Teknologi tersebut memiliki kelebihan karena dapat menghasilkan citra dalam keadaan cuaca apapun. Kajian ini sejalan dengan program satelit yang diwacanakan LAPAN, dimana pada satelit mikro yang ke 5 (A5) akan membawa muatan SAR. Juga sejalan denganupaya LAPAN dan BPPT yang, dipimpin olehKementerian Riset dan Teknologi, tengah mematangkan pembentukan konsorium satelit penginderaam jauh nasional. Konsorsium tersebutbertujuan agar Indonesia dapat memiliki satelit penginderaan jauh sendiri, untuk memenuhi sebagian besar kebutuhan nasional (satelit seri B pada petajalan LAPAN).

 

Untuk aplikasi telekomunikasi, saat ini terdapat beberapa satelit telekomunikasi yang dikelola oleh perusahaan nasional seperti Telkom, Indosat, MNC, dan PSN,serta dalam waktu dekat akan ditambah BRI. Namun demikan transponder yang dimiliki oleh perusahaan nasional tersebut tersebut hanya dapat memenuhi sekitar 30-40% dari kebutuhan nasional, dansisanya sebesar 60-70% masih dilayani oleh pihak asing. Sehingga dapat disimpulkan bahwa Indonesia masih membutuhkan tambahan satelit telekomunikasi nasional.Konsep satelit seri C di petajalan yang digagas LAPAN merupakan salah satu alternatif untuk menyerap kebutuhan nasional, terutama belanja telekomunikasi yang dilakukan pemerintah.

 

Selain untuk aplikasi telekomunikasi sipil, Kementerian Pertahanan juga telah membuat kajian mengenai kebutuhan penggunaan satelit telekomunikasi untuk tujuan pertahanan negara. Dari kajian yang dilakukan didapat persyaratan misi untuk telekomunikasi yang pengamanan khusus ke unit-unit statis (C/Ku-band) dan bergerak (L-band), yang jumlahnya terus tumbuh sesuai dengan tuntutan modernisasi sistem pertahanan dan keamaman. Saat ini jalur telekomunikasi khusus tersebut disediakan oleh perusahaan nasional. Seiring dengan wacana satelit telekomunikasi pemerintah (seri C dalam petajalan LAPAN), Kementerian Pertahanan akan membuat kajian lanjutan apakah misi komukasi pertahanan tersebut bisa terlayani lebih baik dengan satelit pemerintah.

 

Untuk aplikasi navigasi, saat ini aplikasi GNSS di Indonesia semakin berkembang untuk keperluankeamanan tansportasi, baik moda udara, laut, dan darat. Selain itu GNSS juga digunakan untuk survei geologi, operasi tanggap darurat, dan bahwa operasi peralatan pertambangan.penyedia jasa GNSS juga semakin bertambah (GPS milik Amerika, Glonass milik Rusia, dan, Compass milik Cina). Namun hingga kini, belum ada kebijakan nasional mengenai pengaturannya. Aplikasi lain dari GNSS adalah untuk penelitian cuaca antariksa. Hal ini sudah dilakukan Kedeputian Sains LAPAN dengan berbagai stasiun penerima milik LAPAN dan BIG di seluruh Indonesia. Pengetahuan mengenai gangguan sinyal oleh atmosfir yang diperoleh dapat digunakan untuk memberikan koreksi navigasi GPS. Sehingga terdapat potensi untuk bisa membuat akurasi GPS di Indonesia menjadi lebih baik seperti yang dilakukan di Amerika, Eropa, dan India.

 

Untuk aplikasi sains, saat ini pusat teknologi satelit dan pusat sains antariksa LAPAN tengah mengembangkan sensor magnet yang akan ditempatkan di satelit mikro LAPAN-A4. Sensor tersebut akan membaca perubahan kecil di medan magnet Bumi, yang dapat diturunkan menjadi bacaan atas aktifitas matahari. Pada forum ini juga didiskusikan peluang pengembangan misi pengukuran radio okultasi memanfaatkan sinyal GNSS, di satelit LAPAN-A5. Jika hal tersebut dapat terwujud, akan dapat memperkuat penelitian di Kedeputian Sains LAPAN.

 

Pengembangan teknologi satelit yang berkelanjutan akan membutuhkan dukungan SDMdan infrastruktur industri yang baik. Hal tersebut secara khusus menjadi perhatian para perwakilan universitas dan industri. Kajian dilakukan dengan membandingkan SDM dan infrastruktur yang ada di Indonesia dengan di Cina, dimana industri keantariksaannya menyerap ratusan ribu karyawan dengan kualifikasi yang sangat tinggi. Kapasitas industri tersebut telah membuat Cina berhasil memenuhi kebutuhan satelit di negaranya, bahkan mulai menjual keluar negeri. Konsorsium satelit penginderaan jauh yang dibentuk riset dinilai sebagai langkah yang tepat untuk menggalang sinergi nasional, dan disarankan untuk juga dibentuk konsorsium untuk satelit telekomunikasi pemerintah. Bagi Kementerian Kominfo, terbentuknya konsorsium tersebut akan lebih menjamin posisi Indonesia dalam mempertahankan slot orbit dan frekuensi miliknya.

 

Untuk pengembangan SDM, disarankan agar dibentuk pusat-pusat unggulan teknologi keantariksaan di universitas-universitas. Dalam hal ini LAPAN direkomendasikan untuk membuat pohon teknologi keantariksaan, sesuai konteks kebutuhan Indonesia, dan mengidentifikasi prioritas keilmuan dan teknologi-teknologi kunci yang perlu dikembangkan di universitas-universitas dan lembaga-lembaga riset nasional, serta mengupayakan pendanaan untuk litbang-litbang tersebut. Kajian dibuat dengan membandingkan dengan petajalan dan pohon teknologi yang dibuat oleh NASA, dimana saat ini teknologi kunci yang menjadi prioritas diantaranya adalah : sistem propulsi luar angkasa, sistem catu daya dan baterei luar angkasa, sistem navigasi dan kendali otomatis, sistem pendukung astronot, sensor berbasis teknologi nano, serta pemodelan dan simulasi. Adapun litbang teknologi-teknologi kunci tersebut kemudian disebar ke universitas-universitas dan lembaga-lembaga riset Amerika.

 

Salah satu perguruan tinggi yang tengah merintis untuk menjadi pusat unggulan di teknologi satelit adalah Politeknik Negri Surabaya (PENS). PENS memulai litbang teknologi satelit program IINUSAT (Indonesia INter University SATellite)yang didanai Kementerian Pendidikan pada tahun 2009.Program tersebut dilanjutkan dengan mengembangkan nano satelit secara mandiri, dan telah menghasilkan desain awal dan enginering modelpada tahun 2012-2013. Sementara dalam pembahasan mengenai infrastruktur industri, PT. Dirgantara Indonesia (DI) dinilai dapat menjadi salah satu embrio industri keantariksaan Indonesia, karena memiliki pengalaman dalam pembuatan sistem penerima TV satelit. Hal tersebut sangat berpotensi mengingat populasi VSAT di Indonesia yang mencapai puluhan ribu, yang semuanya merupakan produk impor. Sehingga direncanakan dalam FGD mendatang akan lebih dilibatkan kesertaan dari Kementerian Perindustrian, Kementerian BUMN, dan Bappenas.

 

Your Comments
No Comments Results.
Comment Form












Please retype the characters from the image below :


Reload the CAPTCHA codeSpeak the CAPTCHA code
 








Related Posts
FORUM GROUP DISCUSSION RENCANA INDUK TEKNOLOGI SATELIT NASIONAL
15 Jul 2014
Berdasarkan UU No. 21 Tahun 2013 tentang UU Keantariksaan, LAPAN diwajibkan untuk menyusun rencana induk sebagai pedoman nasionaluntuk penyelenggaraan keantariksaan. Salah satu dari kegiatan keantariksaan tersebut adalah penguasaan teknologi satelit…

Satuan Kerja
Peraturan Perundangan
UU No.21 2013
Inpres No.6 2012
JDIH
Multimedia
Foto
Video
Unduh
Unduh File
Kontak kami :
LAPAN
Jl. Pemuda Persil No.1 Jakarta 13220 Telepon (021) 4892802 Fax. 4892815



© 2020 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL